Selasa, 30 November 2010

Adat Istiadat, Benarkah Memicu Kemiskinan??

Oleh Lidya L. Wurru, A. Md

Kalau Anda pernah berkunjung ke salah satu pulau di Nusa Tenggara Timur, dan Anda pernah menginjakkan kaki di Pulau Sumba, Anda mungkin kagum dengan keindahan alamnya. Sekalipun, banyak tepian jurang, terjal, tetapi pantai-pantainya belum tersentuh oleh banyak wisatawan. Budaya, alam, pariwisatanya tidak kalah menariknya dengan pulau-pulau yang lain. Sayangnya, Pulau Sumba belum terkenal, sehingga hanya beberapa wisatawan yang melangkahkan kakinya ke daerah ini.


Di balik itu, adat istiadat masih sangat kental di pulau ini. Seperti, adat kawin mawin, pesta kematian, pesta adat, membangun rumah adat dan semua itu menjadi kebanggaan masyarakat. Saya dilahirkan di Sumba Barat beberapa tahun silam. Keluarga saya tulen Sumba. Tanpa campuran. Saya mengalami sendiri bagaimana adat istiadat merupakan pesta besar-besaran yang seolah-olah tidak ada masalah atau kebanggaan yang lebih besar selain menjalani prosesi adat, entah apapun itu.
Tidak mengherankan kalau sejak masuk SMA, saya selalu kesulitan mendapatkan uang sekolah, biaya SPP Rp. 60.000,- sangat sulit keluar dari bawah alas pakaian di lemari Bapa, karena uang itu akan di pakai untuk mengganti kerbau atau babi keluarga ‘disana’ yang kemungkinan akan meninggal. Kalau mengingat kembali masa lalu itu, terkadang membuat saya tertawa di tengah kesedihan.

Adat istiadat tersebut tidak muncul setelah saya lahir. Satu hal yang saya ketahui, bahwa nenek moyang dahulu telah mewariskan adat, yang selalu mengorbankan hewan untuk prosesi adat apapun. Dan warisan ini patutlah orangtua terus mempertahankan, sebab siapakah yang menolak warisan. Dan umumnya warisan dianggap sebagai suatu yang baik. Apabila di teliti kembali, ada satu masalah didalam warisan ini yang merupakan tombak dan pelan-pelan tapi pasti “membunuh” taraf hidup, pendidikan, keluarga masyarakat pada umumnya.

Tetapi tidak juga menyalakan orangtuanya orangtua jaman sekarang, sebab mereka belum tahu apa efek samping dari warisan tersebut, sebab yang orangtua tahu bahwa sebuah pesan nenek moyang harus dilakukan supaya tidak kualat sebelum meninggal nenek moyang telah berpesan untuk melakukan seperti yang mereka telah lakukan. Dari orangtua yang satu ke orangtua yang lain terus mewariskan hal yang sama, sehingga itu menjadi satu kebiasaan permanen yang sulit untuk ditolak sampai puluhan generasi. Bahkan generasi muda sekarangpun sudah terjerat dengan kebiasaan yang demikian.

Di Sumba, ada pemilahan-pemilahan yang memang tidak di sengaja yang namanya Suku. Suku-suku ini memiliki adat tersendiri yang juga di wariskan oleh nenek moyangnya. Dari nama suku, kita bisa menentukan orang dari suku mana yang boleh menjadi suami atau istri. Karena tidak baik atau pemali (kualat) kalau mengambil istri dari suku yang sama.

Satu hal yang lucu, remaja SMP sudah mulai memikirkan istri dari suku mana yang akan dia pinang, mahalkah belisnya, bagaimana keluarganya dan lain sebagainya. Dan seolah-olah kebiasaan ini, secara tidak langsung memaksa generasi sekarang untuk turut mengambil bagian.

Mau di akui atau tidak, adat istiadat di Pulau ini sudah menjerat lebih dari 10 generasi. Dan adat memang warisan nenek moyang dulu, yang memakai hewan sebagai “segala-galanya” dalam mengurus atau menyelesaikan satu masalah adat. Hewan selalu menjadi korban.

Perkawinan misalnya, seorang gadis di pinang oleh calon mempelai prianya, harus melewati beberapa prosesi adat. Buka surat, pihak gadis harus memotong ayam untuk menyambut sang pria yang sudah membawa parang. Dalam proses ini desepakatilah sejumlah hewan sebagai belis/mahar, yang akan di cicil pada proses tunangan, pindah dan sampai punya cucu cicit. Belis yang sudah disepakati, minimal 15-100 ekor disesuaikan dengan prestise, prestasi atau pendidikan si gadis tersebut. Ya, katakanlah rata-rata 45 ekor untuk seorang gadis. Satu ekor kerbau yang umur sedang seharga ± Rp. 3.500.000,-, sedangkan kuda seharga ± Rp. 2.000.000,-.

Dan seandainya yang 45 ekor belis itu, ada 20 ekor kerbau berarti Rp. 70.000.000,- di tambah dengan 25 ekor kuda Rp. 50.000.000,-, total seluruhnya biaya belis yang dikeluarkan adalah Rp. 120.000.000,- harga itu baru perhitungan secara kasar. Harga bisa berubah-ubah tanpa pemberitahuan. Artinya, jika ada keluarga yang sedang membutuhkan, maka si pemilik kerbau bisa menaikkan harga kerbau tersebut, jauh dari harga sebelumnya.

Wah, bila diijinkan untuk membayangkan, maka biaya Rp. 120.000.000,- (bahkan lebih), itu seorang anak sudah menempuh pendidikan strata satu (S-1) dalam bidang tertentu, atau 4 orang anak sudah menyelesaikan SMA. Jangan berpikir bahwa gaji 5 orang dalam keluarga di tampung, sudah mencukupi biaya belis. Tidak. Dalam keluarga pria, tidak selalu adalah keluarga PNS yang sudah pasti terima gaji tiap bulan. Matapencaharian keluarga di masyarakat Sumba adalah petani, jadi tidak dapat dibayangkan oleh akal sehat kita, biaya sebesar itu meminang seorang gadis butuh kerja keras.

Masyarakat Sumba memang matapencahariannya adalah mayoritas petani. Tetapi hasil kebun bisa menghasilkan banyak uang. Padi, kopi, fanili, cengkeh, jeruk, rambutan, salak, kedondong, alvokat, kelapa dll. Kita sangat kaya di bandingkan dengan pulau-pulau lain, tapi kenapa Sumba menjadi yang “terbelakang”??

Secara logika, kebiasaan/adat ini tidaklah mudah untuk dilepaskan, tak semudah membalik telapak tangan. Merupakan suatu masalah yang (seolah-olah ) sulit untuk di ubah, dan generasi muda sekarang tidak semudah yang saya bayangkan untuk menolak warisan adat tersebut. Karena sudah sejak mereka masih kecil ditanamkan budaya, adat, kebiasaan ini. Sehingga saya sangat tidak heran waktu saya menulis ide pokok dari tulisan saya, seorang Mahasiswa Sumba yang kuliah di Mataram, memprotes dengan menyatakan ketidaksukaannya atas opini saya, “Kak, apa yang kakak tulis tentang Sumba? Saya tidak suka”.
Apa yang salah dengan tulisan saya?
“Tidak ada yang salah. Tapi kenapa harus di tulis? Adat itu tidak dapat di hapuskan, adat itu harus di lestarikan, dan tidak akan mungkin terhapus”. Begitulah dia mengkritik dengan idealis mahasiswanya. Tidak ada yang salah jika saya menulis. Tetapi mungkin banyak orang yang tidak setuju, namun saya juga yakin bahwa sebagian besar generasi sekarang, memiliki pergumulan yang besar mengenai adat ini. Bukankah suatu kebiasaan seperti yang kita nikmati sekarang adalah suatu pola, atauran yang di buat manusia? Bukankah keliru kalau kita melebihi TUHAN dalam hal persembahan daripada sekedar pesta yang menurut saya itu hanya mencoba menjadi artis sekejap? Dosakah jika kita tidak menurutinya?

Silahkan berkomentar : “jangan bicara TUHAN dalam adat istiaadat”. Tapi saya akan memberikan komentar balik, TUHAN tetap menjadi yang utama. Hidup kita ada karena TUHAN bukan karena nenek moyang. Bukan karena adat yang membuat kita tetap hidup sampai sekarang. Tapi TUHAN.

Jika Anda berkomentar :”Kenapa ada penderitaan, utang banyak dan masalah tak henti-hentinya, dimana TUHAN? Apakah Dia tidak memperhatikan manusia?
TUHAN tidak kemana-mana, DIA memperhatikan hidup kita. Masalah, penderitaan bisa jadi adalah teguran supaya manusia kembali menyembah DIA dan mengandalkanNya.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk memberikan tips khusus bagaimana kita memerangi adat dan menghilangkannya sama sekali. Tetapi bagaimana sikap kita seharusnya terhadap Adat. Haruskah kita menjerat diri kita kedalam utang, penderitaan dan masalah yang berkepanjangan, turun temurun yang sebenarnya oleh kita sendiri kita bisa mengendalikannya?

Melalui tulisan ini, hanya satu impian saya, bahwa kelak Pulau Sumba, pulau yang kaya raya ini, bisa lebih baik atau setara dengan pulau-pulau yang lain, yaitu Kemajuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan Sumber Daya Manusia (SDM)

Satu hal yang saya banggakan di masyarakat Sumba adalah, saling membantu satu sama lain itu masih menjadi tradisi yang harus tetap di pertahankan. Misalnya, pria tadi mengumpulkan rekan-rekan pemudanya (istilah:kumpul tangan) sebelum atau sesudah proses tunangan/pindah. Pemuda-pemuda tersebut akan mengambil komitmen seberapapun kesanggupannya untuk membantu kawannya yang akan meminang gadis pujaannya.

Hewan-hewan yang di peroleh dari hasil kumpul tangan, tetap akan di ganti pada saatnya tiba yaitu kawan tersebut akan meminang seorang gadis lain. Akan begitu seterusnya, intinya hewan yang diberikan harus dikembalikan entah sampai turunan ke berapa. Kalau tidak bisa mengganti, dari situlah akan muncul suatu masalah baru : UTANG! Utang ini kalau tidak bisa dilunasi, maka anak-cucu yang akan melanjutkannya. Begitu seterusnya. Utang nenek moyang bisa dirasakan oleh cicit buyut yang tidak tahu apa-apa. Bahkan bisa di bilang anak yang masih dalam kandungan sudah disediakan utang atau dengan istilah memaksa nyamuk memakan tulang ayam.

Sangat banyak kepincangan yang terjadi berkaitan dengan kebiasaan atau adat di Sumba misalnya
1. Jika tidak mengikuti adat nenek moyang yang membuat miskin ini, maka harga diri seolah terancam. Itu terlihat dari cara meresponi satu masalah yang berkaitan dengan hewan. Walaupun berutang demi mengikuti adat.
2. Hal ini mengakibatkan tidak adanya kepercayaan yang total kepada Allah bahwa Allah yang memenuhi segala kebutuhan kita yang mau mengandalkan Dia. Sehingga adanya dualisme, antara menjalankan adat nenek moyang dan beribadah kepada Allah (I Raja-Raja 18:16-40)
3. Karena biaya dan harta yang ada sudah dihabiskan untuk adat tersebut maka pendidikan anak akan tertunda dan membatasi pengembangan diri mereka.
4. Asumsi atau pemikiran tentang adat yang mengikat, membuat kebanyakan orangtua selalu mengorbankan pendidikan anak-anak. Artinya, demi berpesta anak berhenti sekolah. Sehingga mereka yang putus sekolah karena biaya, dan sudah mencapai usia tertentu, sudah layak untuk berkeluarga walau secara mental mereka tidak siap.
5. Apa yang mereka pelajari (sebatas kemampuan yang mereka miliki) itu pula yang akan diajarkan kepada keturunan mereka. Tidak heran jika banyak anak yang tidak mengecap pendidikan. Sebagiannya karena memang jaman dulu belum ada sekolah. Sebagiannya karena keterbatasan biaya. Sebagiannya karena pernikahan dini
6. Karena belis yang mahal, banyak anak muda melarikan diri meninggalkan cintanya. Atau membawa lari istrinya dan menjalani hubungan sebelum menikah. Setelah memperoleh momongan, ia akan kembali kepada mertua tak resminya untuk meminta restu. Mau tak mau, mertua tersebut akan merestui juga karena apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur.. Jika dihitung2, berapa banyak pasangan yang sudah memiliki anak baru pemberkatan nikah, ah terlalu banyak. Dalam satu desa hampir semua pasangan kawin/memiliki anak sebelum menikah dan menikah setelah memiliki anak. Wah.. kalo dipikirkan lagi, apa kata Alkitab mengenai Pernikahan? Apa esensi pernikahan untuk sebuah pasangan? Pentingkah menikah dulu sebelum kawin?
Terlalu banyak persoalan baru timbul dari satu kebiasaan jika di teliti lebih jauh. Beberapa hal yang bisa dilakukan :

Pertama, Membayar belis sesuai kemampuan. Saya sudah merasakan bagaimana cara ini tidak hanya menolong mereka yang membutuhkan, tetapi juga menimbulkan masalah baru. Bukankah yang memicu utang adalah masalah kebiasaan membayar belis sebanyak-banyaknya? Saya tidak bisa membayangkan sukacitanya orangtua, saat bisa memberikan sesuai kemampuannya bukan karena tuntutan dari pihak gadis. Artinya bahwa memang harus ada ketentuan tertentu mengenai jumlah belis yang harus di bayar oleh seorang pria, untuk mempersunting calon istrinya.

Ketentuan ini juga harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat keluarga pada umumnya, yang matapencahariannya adalah petani. Tidaklah logis menanggungkan beban sekarung kepada balita. Tidak masuk di akal menuntut belis 40-50 ekor atas nama cinta, padahal sudah tahu pendapat seorang petani per bulan tidak sampai Rp. 500.000,-. Artinya juga harus saling mengerti, antara satu dengan yang lain, bahwa keberadaan seseorang tidak dapat dipaksakan untuk membayar belis sesuai permintaan yang berwajib. Belis tidak ditentukan berdasarkan ras, pendidikan/prestasi, pertise keluarga. Wanita dihargai karena ia seorang wanita. Bukan karena sukunya. Keluarganya. Pendidikannya.

Kedua, Adanya Peraturan Daerah (PERDA)
Hal lain adalah pemerintah daerah sangat berperan penting dalam pembangunan pulau Sumba. Peraturan daerah menjadi salah satu pengendali. Pesta kematian atau belis yang melampaui batas kemampuan bisa di kendalikan dengan adanya Peraturan Daerah (PERDA). Salah satu caranya menentukan berapa belis yang harus di bayar untuk meminang seorang gadis, apa saja yang diberikan seorang pria dalam melalui prosesi, menyesuaikan dengan kondisi masyarakat umumnya dan sama sekali tidak memaksa. Seingat saya, beberapa tahun silam, pemerintah daerah pernah mengeluarkan peraturan tentang pasal-pasal yang mengatur pesta adat di Sumba, tapi hal itu tidak berjalan baik, karena masyarakat memilih untuk berpesta daripada mentaati peraturan, yang seharusnya demi kepentingan masyarakat itu sendiri.

Ketiga, Kesadaran akan ketidakmampuan dan Harga diri tidak diukur dari pesta

Apa yang menjadi akar dari semua masalahnya ini? Masalahnya adalah “nama”. Malu jika orang lain tahu kalau tidak bersyukur dengan mengorbankan babi, sekalipun harus meminjam. Apa kata orang tentang kita yang tidak menyambut dengan pesta. Apa kata orang tentang suku kita. Sesuatu yang sungguh memalukan kalau tidak menjalankan seperti biasanya orang melakukan. Sseharusnya yang penting untuk di pikirkan adalah apa esensi dari pesta itu sendiri? Kalau tidak sanggup, kenapa harus memaksakan diri? Bukankah suatu kebiasaan tidak harus dituruti? Haruskah kita ikut merokok saat kita masuk dalam satu kelompok perokok? Haruskah kita juga ikut maki saat kelompok lain sudah menjadi kebiasaannya? Kebiasaan tidak harus diwariskan, apabila berdampak negatif. Harga diri tidak diukur dari banyaknya kerbau yang dipotong saat pesta kematiaan? “Nama” tidak selalu di pertahankan dengan jumlah belis yang kita terima. Yang perlu kita malu adalah kita berani atau paksa diri berutang demi sesuatu yang sementara. Karena yang menjadi inti masalah bukan kurangnya harta tapi kurangnya pengertian tentang tidak pentingnya mempertahankan harga diri (nama) demi sesuatu hal yang hanya sesaat.

Memang membingungkan banyak orang, kenapa masyarakat lebih memilih pesta daripada melunasi biaya pendidikan anak-anak? Mengapa lebih memilih mempertahankan harga diri, rasa malu daripada berutang? Mengapa lebih memilih menumpuk utang daripada tidak berpesta menuruti kebiasaan?
Jadi masalah utamanya bukanlah pada adat atau kebiasaan yang tetap harus dipertahankan, tapi bagaimana kita menyikapi setiap persoalan yang ada dengan segala ketidakmampuan kita untuk berpesta. Artinya, kalau memang keadaannya tidak memungkinkan atau tidak mampu dalam hal ini, maka tidak ada hukum yang mengikat tentang bagian ini. Tidak ada peraturan tertentu yang mewajibkan kita untuk berpesta. Tidak ada yang rugi ketika kita tidak mengorbankan babi satu ekor untuk pesta sementara.

Masalah prestise atau penghargaan kepada diri sendiri menjadi masalah yang perlu diselesaikan sebelum mengatur, mengurangi, mengendalikan adat tersebut. Kita merasa malu kalau tidak berpesta saat ada sanak keluarga yang meninggal, bahkan kita menghina orang yang tidak berpesta saat bila ada kematian. Kalau menyadari keberadaan masing-masing, kebiasaan memang perlu dipertahankan jika berdampak positif, kalau dampaknya negatif sudah jelas perlu di pertimbangkan ulang.

Untuk Sumba menjadi lebih baik!


Mataram, 23 September 2010
16 Nop’10

1 komentar:

  1. Smangad terus... untuk suatu perubahan yang baik di Sumba.

    BalasHapus

Terimakasih telah memberikan komentar