Senin, 01 Oktober 2012

Sumba Barat Gelar Pesta Seni Budaya Sumba XIII dan Pameran Pembangunan 2012


Waikabubak, Pulau Sumba merupakan salah satu pulau terbesar di Nusa Tenggara Timur. Sumba mungkin sebagian orang mendengar namanya dan mengaguminya lantaran kemegahan megalitik marapunya serta ketangkasan dan kesatriaan para umbu di punggung kuda sandelwood dalam pesona perang pasola. Namun kini Sumba dikenal sebagai wilayah pengembangan ternak. Masyarakat Sumba masih sangat kental dengan budaya dan usaha melestarikan ternak. Dalam masyarakat Sumba telah menyatu dengan ritual adat dan sebagai kearifan lokal karena kepemilikan ternak merupakan simbol kesejahteraan, prestise dan strata sosial dalam masyarakat Sumba. Dalam rangka meningkatkan pembangunan di Pulau Sumba ini digelar Pesta Seni Budaya Sumba XIII dan Pameran Pembangunan yang dihadiri oleh 3 lembaga Kementerian yakni Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Koperasi dan UKM dan Kementerian Pertanian. Kegiatan Pesta Seni Budaya sumba XIII dan Pameran Pembangunan 2012 dilaksanakan di lapangan Manda Elu dengan mengusung tema “Melalui Pesta Seni Budaya Sumba XIII dan Pameran Pembangunan 2012 Kita Bekerja Keras untuk Pulau Sumba, Kita kembangkan Pariwisata daerah dan Bidang Pembangunan Lainnya untuk Kesejahteraan Pulau Sumba” secara resmi dibuka oleh Dr. Ir. Rusman Heriawan, Wakil Menteri Pertanian. 
Diawali dengan diadakan deviled /karnaval pembangunan dari berbagai macam bentuk lembaga, paguyuban, organisasi dan ragam etnis yang berada di pulau Sumba yang menyemarakkan pembukaan pameran pembangunan tersebut. Kehadiran Wakil Menteri Pertanian RI di Sumba Barat sangat diharapkan oleh masyarakat Sumba untuk dapat memperhatikan rakyat Sumba Barat khususnya di Sumba umumnya. Wakil Menteri Pertanian memberikan apresiasinya terhadap pelaksanaan kegiatan karnaval, pameran pembangunan dan pagelaran seni dan budaya tersebut. Sejalan dengan pernyataan Wamentan, Wakil Gubernur (Wagub) NTT, Esthon Foenay, sangat mendukung kegiatan pawai, pameran pembangunan, dan pagelaran seni se-Sumba sebagai wujud cinta rakyat terhadap budayanya. Selain itu Wakil Gubernur NTT menilai kehadiran Wakil Menteri Pertanian di Kabupaten Sumba Barat membawa “angin surga” baru bagi percepatan pembangunan di NTT. Bupati Sumba Barat, Jubilate Pieter Pandango,S.pd, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan karnaval pameran pembangunan dan pagelaran seni dan budaya se-Sumba melibatkan berbagai komponen masyarakat Sumba Barat dan berharap kepada Wakil Menteri Pertanian beserta rombongan untuk dapat memperhatikan masyarakat Sumba.

Sekitar pukul 19.30 WITA, Wakil Menteri Pertanian RI, Rusman Heriawan, Gubernur NTT diwakili Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon Foenay, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ir. Syukur Iwantoro, MS, MBA, Wakil Bupati Sumba Barat, Reko Deta, Wakil Bupati Sumba Tengah, Umbu Dondu, Wakil Bupati Sumba Barat Daya, Jakob Malo Bulu, dan Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora, mengunting pita di Stand Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sumba Barat sebagai tanda peresmian Pesta Seni Budaya Sumba XIII dan Pameran Pembangunan 2012 di Lapangan Manda Elu Waikabubak.

Dalam kesempatan ini, Wakil Menteri Pertanian menyerahkan bantuan kepada Bupati Sumba Barat dalam bentuk Benih SLPTT Padi untuk 1000 ha, benih jagung hibrida untuk 600 ha, kendaraan roda dua dan soil tester. Pada kesempatan tersebut selain dilaksanakan pesta seni budaya dan pameran pembangunan, sebagai salah satu mendukung empat sukses pembangunan pertanian di Pulau Sumba terutama mengangkat potensi peternakan diselenggarakan kegiatan pacuan kuda yang berlangsung di Gelora Padaeweta, Waikabubak- Sumba Barat. Secara statistik populasi kuda di Indonesian saat ini sebesar 416.307 ekor dimana populasi kuda di provinsi NTT sebesar 115.328 ekor (27,7%) yakni berada di posisi kedua secara nasional setelah Provinsi Sulawesi Selatan yakni sebesar 124.424 ekor (29,9%). Indonesia layak berbangga karena tidak lama lagi akan mempunyai rumpun Kuda Pacu Indonesia (KPI). Pembetukan KPI dilakukan dengan menyilangkan kuda betina lokal yang dipilih jenis kuda sandel secara grading up dengan kuda jantan Thoroughbred. Dalam sambutannya wakil Menteri Pertanian mengatakan pemerintah perlu memberikan pengakuan untuk rumpun galur ternak dalam bentuk penetapan dan pelepasan rumpun galur ternak dalam rangka pemanfaatan dan pelestarian Sumber Daya Genetik, dan berharap dalam waktu dekat rumpun KPI dapat diusulkan kembali untuk dilepas sebagai Rumpun Kuda Pacu Indonesia dan mengimbau kepada Provinsi NTT segera mengajukan proposal untuk penetapan SDGH yang ada di NTT termasuk kuda sandel (sandalwood) sebagai ternak asli Indonesia. Pada kegiatan pacuan kuda yang diselenggarakan dalam rangka memperebutkan piala “Sumba Barat Cup II” dan berlangsung dari tanggal 3 s/d 9 September 2012 yang dihadiri oleh Wakil Menteri Pertanian beserta beberapa pejabat Esselon I dan II serta diikuti oleh 180 ekor kuda. Pada kesempatan tersebut Wakil Menteri Pertanian didampingi oleh Wakil Gubernur NTT membuka acara pacuan kuda dengan terlebih dahulu memberikan kata sambutan dan disusul dengan pemukulan gong sebagai tanda pembukaan pacuan kuda Sumba Barat Cup II tahun 2012 serta menghadiahkan satu piala bergilir Menteri Pertanian untuk diperebutkan se-pulau Sumba sebagai tanda mendukung peningkatan prestasi pacuan kuda di Pulau Sumba. Acara Pacuan Kuda ini memperlombakan 7 (tujuh) kelas perlombaan berdasarkan tinggi badan dan usia kuda. Kuda usia dibawah 3 tahun ada empat kelas dan untuk kuda usia di atas 3 tahun ada 3 kelas. Kelas pacuan yang seru dan ditunggu-tunggu oleh penonton adalah pacuan untuk kuda di atas 3 tahun yaitu kelas A dan B, karena kudanya lebih besar dan cepat larinya. Tidak seperti pada pacuan kuda umumnya, pacuan kuda disini menggunakan joki yang masih berusia belia, antara 8 – 14 tahun dengan perlengkapan joki ala kadar dan tidak menggunakan pelana, dimana kebanyakan para joki berasal dari Bima dan Lombok NTB.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih telah memberikan komentar